KSG-Social Adventure Club

Semangat Yang Tak Pernah Padam, Itulah Api Dari Sebuah Organisasi.

KSG-Social Adventure Club

Pelaksanaan lomba orienteering antar kompi di Yonif 411/6/2 KOSTRAD, Salatiga. 17-18 Mei 2013.

KSG-Social Adventure Club

Diskusi dan pemaparan bersama Mahasiswa Fakultas ilmu Sosial, PD III Cahyo Budi Utomo, tokoh dan masyarakat pesisir.. mengenai keadaan fisik maupun sosial daerah kota Semarang dan permasalahan bencana seperti Rob dan abrasi dsb

KSG-Social Adventure Club

Penanaman dan Rehabilitasi Mangrove dan tanaman pesisir yang dilakukan bersama- sama secara kontinyu dari masa ke masa juga menumbuhkan rasa cinta lingkungan dan kesadaran masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga dan melestarikan kawasan hutan mangrove di pesisir kota Semarang dan sekitarnya

KSG-Social Adventure Club

Aksi Damai Peringatan Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada 22 April di Tugu Muda Semarang

Tampilkan postingan dengan label materi-sar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi-sar. Tampilkan semua postingan

Penggunaan Alat Komunikasi Yang Ideal Pada Kondisi Tanggap Darurat Bencana

Penggunaan Alat Komunikasi Yang Ideal Pada Kondisi Tanggap Darurat Bencana



dalam kondisi suatu bencana alam, seperti Tsunami Aceh, Gempa Bumi, gunung Merapi meletus bisa dibilang pada saat itu Tim penanggulangan bencana harus turun secepatnya untuk penggulangan. dalam sebuah penanggulangan bencana dibutukan sebuah koordinasi yang baik dalam sebuah Tim. namun hal itu agaknya sedikit sulit jika pada kondisi bencana alam, contoh saja tsunami aceh, semua Komunikasi komersil dinyatakan down (GSM,CDMA,Telp Kabel), padahal kita sering memanfaatkan alat komunikasi tersebut dalam keseharian kita beraktifitas. jika alat komunikasi tersebut down dikarenakan server-server yg menghubungkan rusak akibat terjangan bencana alam tersebut maka dalam tim penangulangan darurat bencana harus mampu mencari suatu komunikasi efektif dalam penanganannya. sebab mereka pada kondisi ini tidak didukung kecanggihan alat komunikasi komersial yg biasa dipakai. seperti handphone, telp, internet dll.
dalam ulasan ini saya selaku penulis akan menyampaikan ulasan mengenai cara dan alat-alat komunikasi yg paling efektif pada kondisi yang dijelaskan pada paragraf pertama diatas. adapaun cara dalam komunikasi pada kondisi darurat bencana antara lain:

1. Komunikai Isyarat atau Tanda
sering kita lihat di TV atau di bioskop dalam film-film kerajaan-kerajaan dulu saat perperang dan mengkoordisanikan pasukan dari jarak jauh mereka membuat sebuah tanda. mungkin bs sbuah asap, bendera, teriakan, suara-suara,dll. dalam hal ini kita bisa sedikit meniru cara tersebut. sebagai contoh saat kita sedang melakukan pencarian korban dalam suatu lokasi luas. anggota dibagi dalam tim tim kecil dan digerakkan menyebar untuk mencari korban, jika salah satu tim menemukan korban mereka mungkin bs memberi tanda dengan mungkin meluncurkan kembang api keatas langit dengan warna kuning, lalu jika ada tim yang membutuhkan backup mereka meluncurkan kembang api berwarna merah. 
kelebihan dan kekurangan:
kelebihan : 
alat mudah ditemukan dan biaya murah dalam membuat komunikasi isyarat, 
kekurangan :
 tidak bisa menerima detail akan informasi yang disampaikan karena hanya tanda saja, contoh tim mengirim tanda bahaya, saat tim backup meluncur mereka tidak tahu detailnya bahaya yg dihadapi tim yg mereka datangi, apakah tim tersebut ada yg cidera, apakah ada yg jatuh kejurang atau yg lain.
jarak komunikasi tidak bs jarak yg jauh hanya bisa dibilang jarak midle. tidak mungkin mata manusia mampu melihat kembang api tanda titempat yg sangat jauh, sulit sekali dan riskn info tidak bisa tersampaikan.

2.Komunikasi Radio Komunikasi

kita sering menyebut kata Handy talkie, walkie talkie, RIG alat-alat itulah yg disebut Radio komunikasi. alat komunikasi ini punya sebuah kelebihan tersendiri yaitu alat ini tetap bisa bekerja walau tanpa harus terhubung dengan sebuah server(dalam radio komunikasi desebut repeater/relay), sehingga bisa kita sebut bahwa alat ini adalah alat komunikasi "independen". sifatnya yang "independen" ini lah yang membuat alat ini istimewa dalam digunakan berkomunikasi. namun tetap saja alat ini tidak mungkin mempunyai kekurangan, radio komunikasi adalah sebuah alat elektronik. dimana semua alat elektronik sangat membutuhkan sebuat catu daya listrik yg continue untuk membuat alat ini terus dapat bekerja. permasalahan yang timbul adalah dimana saat kondisi bencana terkadang sumber listrik susah dicari. namun jangan berkecilhati, selalu ada solusi. pengembangan teknologi sudah menunjukan taringnya. penemuan bateray tipe lithium membuat kita bisa bernafas lega tentang asupan catu daya batre untuk Handy talkie/walkie talkie. batre lithium punya kelebihan bentuk yg kecil ringan dan punya tampungan daya lebih besar jika dibanding batre yg lama(NI-Mh dan NI-Cd). sehingga handy talkie dan walkie talkie dapat menyala lebih lama dr biasanya. namun dalam kondisi dilapangan sebuah alat komunikasi handhelf(HT/WT) tetap disarankan memiliki bateray case(wadah baterai) yang bs diisi batre AA/AAA yang bisa dibeli diwarung-warung biasa sebagai cadangan jika batre utama habis. ada juga solusi lain untuk sumber catu daya radio komunikasi, seperti "solar cell" adalah alat yg mampu menghasilkan listrik dari tangkapan pancaran sinar matahari, hal ini sangatlah bagus dikarenakan matahri adalah sumber energi yg mudah didapat dan bs dikonfersi menjadi listrik dapat digunakan sebagai carging untuk radio komunikasi handhelf(HT/WT) atau sebagai power suplay unt radio komunikasi base(RIG).
kelemahan selanjutnya adalah medan yang yang tidak mendukung untuk pancaran radio komunikasi bisa terhubung jika bekerja secara independen saja. sistem kerja radio komunikasi adalah dengan pancaran radio. pancaran radio akan hilang atau tepantul jika mengenai benda2 padat tebing, gedung, pohon dll. seperti sobat-sobat KSG-Social Adventure Club tau dalam operasi pencarian korban gua kiskendo yang hanyut kemarin beberapa hari lalu, korban hanyut sampai keluar gua dan hanyut ke sungai, Tim SRU dari KSG-Social Adventure Club berhasil menemukan salah satu dari dua korban. terjadi kebingungan karena korban terjepit batu dan sulit dikeluarkan ditambah arus nanderas membuat semakin sulitnya proses evakuasi oleh SRU kita. namun sewaktu kita memanfaatkan handy talkie kita untuk memanggil backup dari induk kita tidak bisa terhubung, hal tersebut tidak dikarenakan induk cuek atau tidak merespone, melainkan sinyal radio yang dipancarkan tidak mampu menembus kedua bukit yg menghimpit TKP. walaupun dengan sekuat tenaga SRU kita mampu mengevakuasi jenasah, namun hal tersebut bisa menjadi evaluasi bersama dan pembelajaran bersama bahwa radio komunikasi memang sukar jika kita gunakan pada medan yang terhalang bukit atau gunung. cara mengatasi hal tersebut ada beberapa cara, cara yang pertama adalah mencari tempat setinggi2 nya agar bisa mendapat clear view kearah lawan komunikasi yang kita tuju supaya pancaran bs ditangkap lawan. cara yang kedua adalah pemasangan sebuah server atau dalam radio komunikasi disebut repeater/ relay dengan alat ini kita bisa terhubung dengan lebih mudah kepada lawan pada jarak jauh pada area range repeater.

3. Telepon Satelit
tentunya anda pernah mendengar sebuah alat komunikasi canggih dan modern dengan nama "telp satelit". alat ini sangat efekti f digunakan dimanapuan asal kita masih bisa melihat langit. alat ini punya sistem komunikasi yang terserver pada satelit yang ada diluar angkasa sana. karena server berada diposisi sangat tinggi tidak usah dikuatirkan untuk kemampuan komunikasinya. dan karena server tersebut tidak berada di lokasi bencana maka akan tetap bisa digunakan walau pada daerah bencana, tidak seperti telp seluler biasa bila tiang pancar sinyal ambruk karena bencana rubuh maka hancurlah koneksinya.
namun alat ini dalam penggunaan kita punya sedikit kendala. terutama masalah dana, harga sebuah telp satelit berada dikisaran 10-20jt, wow... dan masih memerlukan pembayaran pulsa saat kita berkomunikasi. tidak  seperti radio komunikasi yg bebas pulsa. namun kelebihannya kita dapat berkomunikasi sangat jauh sekalipun kita pada daerah bencana untuk melaporkan semua yg terjadi.

Origynal poster by : Kinxkonx

NB:demikian sedikit penjelasan dari saya tentang ilmu alat komunikasi yg bisa dimanfaatkan pada kondisi maupun penanggulangan bencana. kitik dan saran yang membangun sangat diharapkan dari anda semua, demi peningkatan ilmu pengetahuan yang ada

HIPOTERMIA

HIPOTERMIA

Dasar Kelainan:
Penurunan fungsi-fungsi fisiologis: oksigenasi jaringan turun, polarisasi otot jantung lambat.
Akibat tingkat seluler: kristalisasi air, perubahan protein , kerusakan membran, vasokonstriksi, jejas endotel, tromboembolisme  -> insufisiensi vaskuler -> iskemi
Dapat terjadi perdarahan karena gangguan koagulasi dan disfungsi trombosit
 
Terlalu lama kedinginan, khususnya dalam cuaca berangin dan hujan, dapat menyebabkan mekanisme pemanasan tubuh terganggu sehingga menyebabkan penyakit kronis. Hipotermia adalah suatu keadaan dimana tubuh merasa sangat kedinginan. Setelah panas dipermukaan tubuh hilang maka akan terjadi pendinginan pada jaringan dalam danorgan tubuh.Kedinginan yang terlalu lama dapat menyebabkan tubuh beku, pembuluh darahdapat mengerut dan memutus aliran darah ke telinga, hidung, jari dan kaki. Dalam kondisiyang parah mungkin korban menderita ganggren (kemuyuh) dan perlu diamputasi. Udara dingin yang basah disertai angin yang bertiup kencang, seringkali dijumpai para pendaki ketika melakukan pendakian gunung. Tidak jarang badai dan hujan lebat menyertai hawa dingin. Malam yang cerah seringkali membuat udara semakin dingin dan berembun. Di puncak musim kemarau justru di sekitar puncak gunung seringkali muncul kristal-kristal es yang menempel pada daun-daunan dan bunga edelweis. Pakaian yang basah, kaos kaki yang basah semakin menambah dinginnya badan. Keadaan akan semakinparah bila pendaki tidak memperhatikan makanan sehingga tubuh tidak memperoleh energiuntuk memanaskan badan. Dinginnya udara seringkali membuat perut kembung sehinggaenggan untuk makan, kecuali memang kehabisan makanan. Hipotermia adalah kondisi di mana tubuh kita mengalami penurunanan suhu inti (suhu organ dalam).

Hipotermia bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di seluruh tubuh ( Edema Generalisata), menghilangnya reflex tubuh (areflexia), koma, hinggamenghilangnya reaksi pupil mata. Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 32°C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 25°C. Di samping sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.
Beberapa jenis hipotermia, yaitu:
  •         Accidental hypothermiaterjadi ketika suhu tubuh inti menurun hingga <35°C
  •       Primary accidental hypothermiamerupakan hasil dari paparan langsung terhadap udara dingin pada orang yang sebelumnya sehat
  •     Secondary accidental hypothermiamerupakan komplikasi gangguan sistemik (seluruh tubuh) yan serius. Kebanyakan terjadinya di musim dingin (salju) dan iklim dingin.



B.  PENYEBAB HIPOTERMIA
Penyebab Hipotermi, yaitu:
  1. Yang pasti, ada kontak dengan lingkungan yang dingin.
  2. Adanya gangguan atau penyakit yang diderita.
  3. Penggunaan obat-obatan (alcohol, barbiturate, phenothiazine, insulin, steroid, β-blocker)
  4. Sepsis, hipotiroid, radang pancreas

C. GEJALA HIPOTERMIA
Gejala dan Indikasi Penyakit Hipotermia:
  •  Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36° C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.Bila seluruh tubuhteraba dingin, maka penderita sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 32°C - <36°C).
  • Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun di bawah 35 ° C. Sayangnya salah satu gejala pertama adalah ketidakmampuan untuk berpikir jernih dan, karena itu, untuk mengenali bahaya pendinginan tubuh. Mereka juga mengalami perubahan dalam kepribadian dan kecenderungan untuk menjadi tidak kooperatif. Merinding, kulit mati rasa dan kehilangan ketangkasan juga tanda-tanda awal hipotermia.

  • Tubuh mulai menggigil pada suhu tubuh 36,1 ° C Dari sana bergetar keras meningkat sampai tubuh mencapai 32,2 ° C, setelah itu berhenti menggigil dan suhu merosot. Pada kisaran 33,9 ° C sampai 32,2 ° C penderita berbicara dengan kesulitan, berpikir lambat, pupil Anda melebar, ia memiliki respon otot miskin dan tanda-tanda depresi mengindikasikan hipotermia yang telah menjadi parah. Bawah 32,2 ° C, halusinasi dan masalah jantung. Bawah 28,3 ° C, koma dan gagal jantung. Umumnya setelah kematian. 

  • Gigi gemeretakan, merasa sangat letih dan mengantuk yang sangat luar biasa. Selanjutnya pandangan mulai menjadi kabur, kesigapan mental dan fisik menjadi lamban.
  • Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.Selain itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat sekali kehilangan panas tubuhnya (“faktor wind cill”). Jadi kalau badan basah kuyub kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia menjadi “paradoxical feeling of warmth” akan semakin cepat terjadi.
  • Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan, tapi dia malah merasa kepanasan (dlm bukunya Norman Edwin disebut “paradoxical feeling of warmth”). Oleh karena itu si korban akan melepas bajunya satu per satu dan tetap masih merasa kepanasan.
  • Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dengan pelan, oleh karena itu sang korban tidak merasa kalau dia menjadi korban hipotermia. Dari sejak korban tidak bisa menahan kedinginan sampai malah merasa kepanasan di tengah udara yang terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalau dia telah terserang hipotermia.
  • Dalam kasus penderita hipotermia yang sampai pada taraf “paradoxical feeling of warm” selain merasa kepanasan dia juga terkena halusinasi. Akan tetapi, dalam banyak hal lainnya, halusinasi juga telah terjadi walau si korban tidak sampai mengalami“paradoxical feeling of warm”. Yang jelas, ketika si korban hipotermia sudah kehilangan “kesadaran”, maka dia akan mudah terkena halusinasi. Dan faktor halusinasi ini yg sangat berbahaya karena korban akan “melihat bermacam-macam hal” dan dia akan mengejar apa yg dilihatnya itu tanpa menghiraukan apa-apa yg ada di hadapannya.Jadi tidaklah mengherankan kalau banyak korban hipotermia ditemukan jatuh ke jurang telah meninggal dunia.
  • Hipotermia bisa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah),asidosis metabolik (keasaman darah yang tinggi) dan kematian. Tubuh dengan cepat menggunakan energi agar tetap hangat, sehingga pada saat kedinginan penderita memerlukan lebih banyak oksigen. Karena itu, hipotermia bisa menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke jaringan.

  • Angin dan air merupakan landasan hilangnya suhu tubuh. waspadalah terhadap tanda-tanda awal hiportermia dalam diri kita dan tim kita dan menghidupkan kembali korban hipotermia sulit, bahkan dengan petugas terlatih. Sangat penting bahwa melihat gejalanya 
D  CARA MENCEGAHNYA!!!:
  • Berdoa pada yang Maha kuasa minta keselamatan dan tidak terjadi sesuatu yang buruk.
  • Perlu diingat nutrisi yang tepat untuk lingkungan dingin. Diet yang seimbang adalah penting. Perbanyak konsumsi yang mengandung karbohidrat, protein dan lemak secara berkala untuk menjaga keseimbangan energi otot. Untuk mempertahankan tingkat glikogen, tubuh membutuhkan asupan makanan yang teratur.
  • Membawa peralatan dan perlengkapan yang sudah safety prosedur dalam kegiatan di luar aktifitas seperti hiking, mountaineering dsb.
  • Membawa peralatan yang mencegah tubuh untuk menghilangkan panas tubuh seperti: rain coat, jaket, thermal insulated polartech, kaos kaki , sarung tangan hangat, syal, kupluk dll.
  • Kalo mendirikan tenda  hindari seminimal mungkin dari pengaruh angin, Penghalang angin seperti cekungan , batuan, vegetasi dsb. (jangan tidur di tempat terbuka)
  • Hindari tidur di perjalanan yang terlalu lama , karena semua itu bisa menyebabkan penurunan suhu tubuh yang drastis.
  • Hindari kontak langsung dengan Air hujan/ air genangan dll, bawalah selalu jas hujan dan pelindung air lainnya..
  • Perhatikan selalu kondisi teman anda, janganlah egois atau acuh tak acuh. 
  • MENCEGAH LEBIH BAIK DARI PADA MENGOBATI
Trims semoga bermanfaat
dari berbagai sumber dan pengalaman sahabat
By Admin: @Gim 2012

    SAR ?


    SAR (SEARCH AND RESCUE)
    ORGANISASI SAR
    Pengertian
    SAR merupakan singkatan dari Search And Rescue yang mempunyai arti usaha untuk melakukan percarian, pertolongan dan penyelamatan dalam keadaan darurat yang dialami baik manusia maupun harta benda yang berharga lainnya.

    Hakekat SAR
    SAR merupakan kegiatan kemanusiaan yang dilakukan secara suka rela dan tanpa pamrih dan merupakan kewajiban moril bagi setiap individu yang terlatih untuk melakukan pertolongan terhadap korban musibah secara cepat, tepat dan efisien dengan memanfaatkan sumber daya/potensi yang ada, baik sarana dan prasarana maupun manusia yang ada.

    Perkembangan Organisasi SAR
    Semenjak terbentuknya pada Tgl. 28 februari 1972 dan dalam perkembangannya, organisasi SAR telah mengalami beberapa kali perubahan yang di lakukan oleh pemerintah untuk lebih mengoptimalkan organisasi SAR. Adapun perubahan – perubahan yang pernah dilakukan adalah;
    Keppres No. 11 Thn. 1972. di sebutkan bahwa BASARI ( Badan SAR Indonesia) mempunyai susunan organisasi yang terdiri dari Pimpinan, Pusat Kordinasi SAR Nasional (PUSARNAS), Pusat Kordinasi Rescue, Sub–Sub Pusat Kordinasi Rescue serta Unsur – Unsur SAR.
    Keppres No. 44 Thn. 1974. Di jelaskan antara lain bahwa PUSARNAS (Pusat SAR Nasional) berada di bawah Departemen Perhubungan.
    Keppres No. 28 Thn. 1979 . di jelaskan bahwa BASARI termasuk anggota BAKORNAS PBA (Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Alam).
    Keppres No. 47 Thn 1979. PUSARNAS diganti menjadi BASARNAS (Badan SAR Nasional).
    Perubahan PUSARNAS menjadi BASARNAS di sertai pula dengan perubahan eselon dari eselon II menjadi eselon I atau setingkat Direktorat Jenderal. Dan untuk kelancaran tugas – tugas di lapangan, Menteri perhubungan telah mengeluarkan instruksi bahwa Kepala BASARNAS ditunjuk sebagai kuasa ketua BASARI untuk tugas – tugas di lapangan.

    BASARNAS
    BASARNAS mempunyai tugas pokok untuk membina dan mengkoordinasikan semua usaha dan kegiatan pencarian, pemberian pertolongan dan penyelamatan sesuai dengan peraturan SAR nasional dan Internasional terhadap manusia ataupun benda berharga lainnya.
    Kantor Koordinasi rescue (KKR)
    Mempunyai tugas pokok untuk menyelenggarakan suatu koordinasi Rescue guna mengkoordinir semua unsur dan fasilitas SAR untuk kegiatan di wilayah tanggung jawabnya.
    TINGKAT KEADAAN DARURAT
    Dalam SAR dikenal adanya 3 tingkat keadaan darurat:
    Inserfa
    Destresfa
    Alertfa
    1.Phase keadan darurat.
    •Tingkat meragukan (Uncertainty phase – INCERFA), bila pesawat atau kapal terlambat melapor tiba di tempat tujuan melebihi batas waktunya.
    •Tingkat mengkhawatirkan (Alert phase – ALERFA), merupakan kelanjutan dari phase INCERFA atau diketahui pesawat atau kapal dalam keadaan mengkhawatirkan atau adanya ancaman terhadap keselamatannya.
    •Tingkat memerlukan bantuan (Distress phase – DISTRESFA) diketahui penumpang pesawat atau kapal dalam keadaan bahaya dan memerlukan pertolongan.
    2.Tahap Operasi SAR.
    •Tahap menyadari (Awareness Stage), yaitu saat diketahui/disadari terjadinya keadaan darurat.
    •Tahap tindak awal (Initial Action Stage), saat dilakukan tindakan awal sebagai respon adanya musibah.
    •Tahap perencanaan operasi (Planning stage), saat dilakukan rencana operasi yang efektif untuk melaksanakan operasi SAR.
    •Tahap operasi (Operation stage), saat dilakukannya operasi pencarian dan pertolongan.
    •Tahap pengakhiran operasi (Mission conclusion stage), saat dinyatakan operasi SAR selesai dan seluruh unsur dikembalikan ke satuan masing-masing.

    KOMPONEN SAR
    Sebelum di aktifkannya suatu kegiatan operasi SAR, tentunya harus di dahului dengan adanya berita suatu musibah atau sesuatu yang menghawatirkan atau di khawatirkan akan terjadi musibah.
    Penyelenggaraan operasi SAR akan berlangsung dengan baik bila di dukung oleh komponen – komponen SAR yang meliputi ; organisasi, fasilitas, komunikasi, medik dan dokumentasi.
    organisasi
    Organisasi dalam misi SAR akan dibentuk dalam jangka waktu tertentu demi kelancaran koordinasi dan pengendalian unsur-unsur SAR yang ada hingga kegiatan menjadi efektif dengan hasil yang optimal. Organisasi ini akan bubar dengan sendirinya apabila operasi SAR telah dinyatakan selesai. Untuk itu perlu diketahui tugas dan tanggung jawab serta hubungan dari setiap unsur SAR.
    Fasilitas
    Yang termasuk dalam fasilitas SAR adalah semua pendukung penyelenggaraan dalam kegiatan operasi SAR, dapat berupa fasilitastr milik pemerintah, swasta, perusahaan, kelompok/organisasi masyarakat maupun perorangan. Jenisnya dapat berupa personil terlatih, kendaraan, alat komunikasi dll.
    Komunikasi
    Komukasi akan berperan dalam penyampaian informasi dari satu unit ke unit lainnya secara cepat dan akan lebih memudahkan dalam pengendalian operasi terlebih dalam keadaan emergency.
    Pelayanan Darurat Medik
    Dalam pelaksanaan operasi SAR sangat diperlukan adanya pelayanan darurat medik untuk memberikan pertolongan pertama bila ada korban yang membutuhkan sebelum di tangani oleh pihak yang lebih berkompeten. Pelayanan ini juga di butuhkan pada saat melakukan evakuasi dan mobilisasi korban.
    Dokumentasi
    Dokumentasi berguna untuk memberikan data dan keterangan serta analisa dari informasi misi SAR yang diterima termasuk mulai dari tahap kekhawatiran sampoai tahap konklusi misi, khususnya catatan baik secara tulisan atau visual. Ini merupakan bahan untuk evaluasi dan pedoman untuk kegiatan selanjutnya.

    STRUKTUR ORGANISASI MISI SAR
    SC >>> SMC >>> SRU atau SC >>> SMC >>> OSC >>> SRU
    SC (SAR Cordinator)
    Adalah pejabat yang mampu memberikan dukungan kepada KKR dalam menggerakkan unsur-unsur operasi SAR karena jabatan dan kewenangan yang di milikinya. Kemudian unsur-unsur ini diserahkan kepada SMC untuk di gunakan dalam operasi SAR.
    b.    SMC (SAR Mission Coordinator)
    Adalah pejabat yang di tunjuk oleh kepala BASARNAS/KKR karena memiliki kualifikasi yang di tentukan atau telah mengikuti pendidikan sebagai seorang SMC yang di akui.
    SMC akan mengkoordinasikan dan mengendalikan operasi SAR dari awal sampai akhir.
    Tugas dan tanggung jawab SMC:
    1. Mendapatkan informasi tentang musibah.
    2. Mendapatkan informasi tentang cuaca.
    3. Menentukan/membagi areal pencarian dan cara serta fasilitas yang akan di gunakan.
    4. Mengadakan debriefing terhadap unsur-unsur SAR yang akan dilibatkan.
    5. Mengevaluasi setiap perkembangan (berdasarkan data-data yang di terima).
    6. Melaporkan kegiatan secara teratur ke BASARNAS/KKR.
    7. Mengatur dropping perbekalan.
    8. Mengadakan koordinasi dengan KKR tetangga bila areal pencarian tidak terbatas pada satu wilayah SAR saja.
    9. Menyarankan penghentian pencarian bila di pandang perlu.
    10. Membebaskan unsur SAR atau menghentikan kegiatan bila bantuan mereka tidak di butuhkan.
    11. Membuat laporan akhir perihal hasil operasi SAR yang telah dilaksanakan.
    Pada umumnya pengendalian SAR di lakukan di KKR namun bila tidak memungkinkan, SMC dapat berpindah sementara ke daerah yang lebih dekat dengan lokasi operasi dan mengendalikan dari daerah tersebut.
    c. OSC (On Scene Commander)
    OSC adalah pejabat yang di tunjuk oleh SMC untuk melaksanakan sebagian tugas SMC di lapangan. Persyaratan pejabat OSC sama dengan persyaratan seorang pejabat SMC. OSC melaksanakan tugas sebatas yang di delegasikan kepadanya. Hal ini biasanya di lakukan bila lokasi pencarian sulit untuk di kendalikan secara langsung oleh SMC atau SMC merasa perlu adanya OSC untuk membantu kelancaran tugas-tugasnya.
    d. SRU (Search And Rescue Unit)
    SRU adalah unsur SAR yang di operesikan dalam kegiatan SAR dan mengikuti pentahapan penyelenggfaraan operasi. SRU dapat berasal dari berbagai organisasi/instansi yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan operasi SAR.



    Teknik Pencarian
    Perencanaan pencarian sangat tergantung kepada situasi baik berupa medan maupun data yang telah diperoleh sampai sejauh mana. Dalam usaha pencarian terdapat lima mode yang sering diterapkan ;
    1. Preliminery Mode
    Pada mode ini usaha yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi-informasi awal, sejak pengadaan tenaga operasi, formasi dari perencanaan pencarian awal, perhitungan-perhitungan.
    2. Confinement Mode
    Yang dilakukan pada mode ini adalah memantapkan garis batas untuk mengurung korban agar berada dalam suatu daerah pencarian. Sasaran mode ini adalah untuk menjebak korban dalam daerah pencarian sehingga jika area tersebut disapu korban akan dapat ditemukan ataupun jika korban bergerak keluar dari daerah pencarian, korban dapat ditangkap atau ditemukan oleh tim pencari. Kerja awal confinement mode ini adalah untuk memagari gerak pencarian korban. Dalam teknik pendariannya, metode yang dapat diterapkan adalah :
    Trail Block
    Metode trail block in berfungsi untuk memantau alur keluar masuk orang di suatu titik jalan setapak (trail) di daerah pencarian. Suatu tim ditempatkan memantau orang-orang yang datang atau meninggalkan daerah pencarian. Harus ada personil yang tetap berada di pos trail block untuk terus menerus mengawasi jalan setapak sepanjang waktu hingga diperintahkan untuk beralih ke metode lain.
    Road Block
    Road block pada prinsipnya sama dengan trail block, yang membedakannya hanya kondisi jalan yang lebih besar yang dapat dilalui olhe pengguna mobil. Jika diperlukan atau karena daerah pencarian dinyatakan tertutup, dapat ditempatkan petugas keamanan di lokasi pemblokiran.
    Look Out
    Metode ini menggunakan tempat yang memiliki ketinggian cukup atau sudut pandang yang luas sehingga memungkinkan pencari untuk dapat memantau dari tempat tersebut. Dari tempat pengamatan diusahakan dapat melihat sungai, lembah-lembah dan sebagainya. Satu tim kecil dapat ditempatkan pada posisi ini, dapat mengawasi daerah dengan teropong dan ada kemungkinan mendeteksi orang apabila bergerak lewat tempat tersebut.
    Beberapa bentuk peralatan (asap, bunti-bunyian, lampu, bendera) dapat digunakan oleh tim pencari untuk menarik perhatian korban. Variasi lain adalah tetap menempatkan seorang pengamat, sementara tim kecil lain bergerak memeriksa beberapa lokasi lain dan objek-objek mencurigakan yang berada dalam jarak pandang pengamat.
    Camp-In
    Camp-In dapat daja berupa look out, trail block atau situaso lain dimana satu tim kecil menempati pos-pos tertentu. Lokasi camp-in merupakan lokasi yang mempunyai batas pandang yang cukup luas. Pertemuan dari jalan setapak, pertemuan cabang sungai dan lain-lain. Tanda-tanda yang dapat menarik perhatian orang yang hilang, yang menunjukkan arah menuju pos-pos tertentu dapat dipergunakan.
    Track-Traps
    Track-traps juga mirip dengan camp-in, tetapi pada lokasi track traps tidak ditempatkan personil. Yang perlu diperhatikan pada metode ini lokasi tersebut diperkirakan akan dilalui oleh korban.
    Salah satu caranya dengan menggunakan jalur jalan yang berlumpur sehingga bila ada orang yang lewat di daerah tersebut akan terlihat jejak-jejaknya. Pemeriksaan lkasi track-traps ini dilakukan secara berkala untuk melihat jejak dan juga kemungkinan orang lain menebarkan debu-debu sehingga meninggalkan jejak jika ada orang yang lewat.
    String Lines
    Metode ini lebih unggul jika dilakukan di daerah yang berkanopi rimbun atau lebat (hutan tertutup). Bentangan tali yang bertanda akan lebih efektif untuk keperluan pengepungan dibandingkan metode lain. Sedangkan metode-metode look out, camp-in, maupun track traps lebih efketif dilakukan di tempat terbuka. Tags (tanda-tanda) pada string lines akan menarik perhatian korban untuk bergerak mengikuti bentangan tali itu menuju ke tempat yang lebih aman.
    3. Detection Mode
    Metode detection dilakukan untuk memeriksa tempat-tempat yang dicurigai. Pencarian dengan cara menyapu (sweep search) diperhitungkan untuk menemukan orang ataupun barang-barang yang tercecer. Mode ini dibagi atas tiga search :
    Tipe pencarian I
    Istilah lainnya adalah reconnaissance atau hastic search. Pencarian ini dilakukan secara sangat cepat sehingga kesannya terburu-buru terhadap area yang paling memungkinkan. Sifatnya pencarian segera terhadap area yang spesifik sekaligus untuk memperoleh informasi tentang lokasi daerah pencarian. Bisa juga dilakukan pemeriksaan berulang-ulang terhadap tempat yang sangat memungkinkan. Metode ini biasanya dilakukan pada tahap awal operasi. Untuk kebutuhan ini diperlukan satu tim yang dapat bergerak cepat.
    Tipe pencarian II
    Kriterianya adalah efisiensi, pemeriksaan yang cepat dan sistematis atas area yang luas dengan metode penyapuan. Tipe ini adalah pencarian yang cepat atas area yang luas. Pemakaian tipe ini biasanya dilakukan pada tahap awal pencarian, terutama bila jangka waktu orang yang hilang tersebut sangat pendek. Pencarian ini juga dilakukan pada situasi dimana daerah pencarian luas. Tidak ada area-area khusus yang dapat diidentifikasi , dan bila kekurangan tenaga untuk bisa meliputi seluruh area.
    Tipe pencarian III
    Kriteria tipe ini adalah kecermatan sering juga disebut Close Grid. Pencarian dilakukan dengan menggunakan sistematika yang ketat atas areal yang lebih kecil. Tipe ini dilakukan bila search area telah terbatas dan tenaga pencari mencukupi. Dan umumnya dilakukan setelah tipe pencarian II.
    4. Tracking Mode
    Yang dimaksud dengan tracking mode adalah pencarian dengan mengikuti jejak-jejak atau barang-barang yang tercecer, yang ditinggalkan oleh korban berdasarkan data yang dimiliki. Tracking mode biasanya menggunakan anjing pelacak ataupun regu yang terlatih dalam mengesan jejak.
    5. Evacuation Mode
    Evacuation mode menyangkut masalah evakuasi, perawatan terhadap korban di lapangan dan membawanya ke lokasi yang lebih aman dan lebih baik fasilitasnya.

    AMS (acute mountain sickness)

    terjadi karena individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan terutama faktor cepatnya naiknya ketinggian diatas 2000 mdpl dalam waktu 1-2 hari, mulai dari sakit ringan sampai sakit berat dan ini termasuk self-lifting disease

    PP pada penyakit jantung

    Serangan Jantung adalah penyakit yang dapat menyerang siapa saja, kapan saja dan dimana saja, tanpa memandang usia. Orang-orang yang beresiko mengalami penyakit jantung seperti perokok, penderita tekanan darah tinggi, jumlah cholesterol dalam darah cukup tinggi, penderita diabetes dan kegemukan, kurang berolah raga, makan makanan yang tidak sehat, stress yang berkepanjangan terutama yang memiliki personality tipe “A”, juga adanya faktor genetik dan faktor-faktor lainnya.
    World Health Organization badan kesehatan dunia, tahun 2004 melaporkan bahwa penyakit Jantung Koroner atau Cardiovascular Diseases (CVDs), secara global berada diurutan pertama penyebab kematian. Ada sekitar 17.1 juta orang atau kurang lebih 29% dari jumlah penduduk dunia meninggal akibat dari penyakit jantung koroner dan stroke.
    Lebih lanjut dalam survey dikatakan bahwa pada tahun 2030, diperkirakan 23.6 juta orang akan meninggal akibat dari penyakit pembuluh darah, terutama akibat dari serangan jantung secara tiba-tiba dan stroke.
    Penelitan yang diberi nama proyek”the single leading causes of death” atau “penyebab utama kematian” mengatakan bahwa daerah Eastern Mediterranean mengalami peningkatan presentasi terbesar, terserang penyakit jantung dan daerah South-East Asia, dimana Indonesia berada di daerah dikatakan bahwa penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi penyebab kematian.
    Tanda-tanda Awal Terserang Penyakit Jantung
    1. Sakit atau perasaan tidak nyaman, seperti ada yang menekan berpusat tengah-tengah dada (pain or discomfort in the centre of the chest)
    2. Sakit atau perasaan tidak nyaman menjalar ke tangan sebelah kiri, merambat ke bahu sebelah kiri, sakit merambat seluruh pergelangan tangan kiri dan siku , rahang dan ke bagian belakang (pain or discomfort in the arms, the left shoulder, elbows, jaw, or back)
    3. Biasanya setelah adanya gejala rasa sakit yang amat sangat pada dagu, akan disusul dengan mual (nausea), banyak berkeringat. Tanda-tanda ini dapat terjadi tetapi lebih jarang.
    Sekitar 60% penderita jantung mengalami serangan saat tidur sehingga ada kemungkinan “Tidak ada kesakitan pada Dada pada saat Serangan Jantung” terjadi, tetapi yang didapati adalah dia sudah tidak terbangun lagi. Saat serangan jantung terjadi gejala rasa sakit dapat dirasakan dengan jelas, pada penderita yang sedang tertidur saat mengalami serangan jantung karena dalam keadaan tidur, maka gejala kesakitan tidak terlihat pada penderita yang mengalami serangan jantung saat tidur, tetapi tiba-tiba saat terbangun penderita sudah tidak dapat menggerakkan tubuhnya akibat serangan stroke atau penderita meninggal saat tidur.

    sumber: http://ambulans118.org/index.php/fitur-produk/artikel-kesehatan/pertolongan-pertama--pada-penderita-serangan-jantung